Oleh Fadhil ZA

DCP_2767

Sudah hampir 10 tahun istriku Herisna ibu dari ketiga anak anakku meninggalkan kami menghadap Allah Rabbal alamin. Saya teringat kejadian 10 tahun yang  lalu  pada awal tahun 2006 ,  disaat terakhir kami hidup bersama setelah berumah tangga selama 28 tahun .

Ketika itu sudah lebih 3 bulan istri saya sakit, dokter menyatakan istri saya terkena gangguan Sirosis (pengerasan hati). Saya sudah membujuk istri saya untuk dirawat dirumah sakit , namun dia tidak mau. Pengalamannya bulak balik menemani saya dirumah sakit karena gangguan lambung dan serang jantung membuat ia trauma.

Dia hanya percaya pada pengobatan alternatif, perutnya mulai membesar dan kakinyapun membengkak . Dia marah besar jika ada teman atau famili yang menyarankannya  untuk dirawat dirumah sakit. Pada awal Juni  2006 keadaan istri saya semakin mengkawatirkan. Ketika saya mau berangkat kerja tiba tiba ia muntah berwarna merah, dengan sigap anak saya yang perempuan membimbing istri saya ketempat tidur dan membersihkan muntahnya. Saya bertanya “Kok warna muntahnya merah” . “ Ia pap itu kelihatannya bercampur darah” kata anak saya.

Hari Jum’at tgl 2 Juni 2006 teman saya di kantor mengatakan bahwa mereka mau besuk istri saya dirumah, saya katakan nanti saja hari senin karena saya sudah mengambil cuti selama satu bulan untuk merawat istri saya dirumah. Selesai shalat jum’at ruang kantor sepi , saya tanyakan pada teman yang ada “ yang lainnya kemana “ , di jawab “  mereka semua kerumah bapak, mau besuk ibu” . Saya hanya menghela napas , agaknya teman saya tidak sabar menanti hari senin.

Saya sudah mengambil cuti selama  satu bulan untuk menemani dan merawat istri saya dirumah. Memperhatikan keadaannya saya merasa masa hidup istri saya tidak akan lama lagi, saya takut kalau ia mengalami penderitaan berat ketika proses sakratul maut. Saya ingat adik perempuan saya Mega Murni  yang mengalami sakit Lever seperti istri saya , sepanjang hari hanya mengeluh dan berteriak kesakitan . Ia terus mengaduh kesakitan sampai akhir hayatnya. Saya takut kalau hal itu sampai dialami pula oleh istri saya.

Hari jum’at tgl 2 Juni 2006 itu saya sudah memegang surat izin curi selama satu bulan. Sore itu saya langsung pulang menemui istri saya dan menyampaikan bahwa saya sudah mengambil cuti untuk merawatnya dirumah. Istri saya gembira dan menceritakan bahwa tadi teman kantor saya datang membesuk dia dirumah.

Malam itu istri saya tidak bisa tidur sejak magrib tiap satu jam ia buang air besar, saya perhatikan warna BAB nya hitam. Agaknya ada pendarahan dilambung istri saya, saya tahu itu dari pengalaman saya ketika mengalami luka lambung BAB saya berwarna hitam. Saya tanyakan apakah dia merasakan sakit, dia menjawab bahwa ia tidak merasa sakit , hanya terasa letih sekali. Dia juga bercerita bahwa ia sudah dua hari tidak buang air kecil, sementara kakinya terus semakin membesar. Saya kuatir jika ginjalnya juga tidak berfungsi dengan baik.

Dengan lemah lembut saya bujuk agar ia mau dirawat dirumah sakit , ia menjawab :” Sudahlah jangan sebut sebut rumah sakit lagi, saya tidak mau seperti datuk (abang) didorong kesana kemari dirumah sakit” . Dia tetap berkeras tidak mau dirawat dirumah sakit. Sampai tengah malam ia masih buang air besar  setiap jam. Ketika saya tanyakan apakah ia merasa sakit dilambung, dijawabnya tidak, dia hanya merasa lemas dan capek.

Jam 2 malam ia merasa takut , dia merasa seperti ada sesuatu yang mendatanginya. Saya katakan “ Kamu jangan takut  pada apapun, takutlah hanya pada Allah” . Saya tuntun dia untuk membaca asmaulhusna ” sebut terus nama Allah, ya Rahman…ya Rahim, …ya Malik…ya Aziz “ . Mulut istri saya terus menyebut asma Allah , dia terus menyebut ya Rahman ya Rahim. Wajahnya kelihatan mulai tenang , tidak ada rasa cemas dan takut.

Istri saya terus membaca asmaulhusna Ya Rahman ….ya Rahim, sampai akhirnya terdengar suara azan subuh di Masjid. Saya berbisik pada istri saya minta izin untuk shalat di Masjid . Ia berkata :” Datuk (abang) jangan ke masjid , temani saya dirumah “ . “ Baiklah “ saya tidak jadi ke Masjid , hanya saja mata saya amat mengantuk karena semalaman tidak tidur. Selesai shalat subuh saya bangunkan anak saya yang perempuan:  “ Kamu gantian jaga mama, papa sudah ngantuk mau tidur sebentar” kata saya.

Entah berapa lama saya tertidur , tiba tiba badan saya terasa ada yang mengguncang:” Papa bangun…mama…mama…” terdengar suara anak saya yang perempuan membangunkan saya.

Saya terkejut dan segera terbangun, saya bergegas mendatangi istri saya. Saya lihat napasnya agak berat , saya perhatikan dia tetap menyebut asma Allah. Saya merasa agaknya saat sakratul maut telah datang, saya meneteskan air mata , saya mohon agar Allah meringankan keadaannya. Dikeliling dua orang anak saya, ibu mertua dan abang istri saya ,  kami bersama membaca kalimat laa ilaha illallah. Napas istri saya terlihat semakin lambat….lambat..lambat …dan akhirnya tidak ada lagi tarikan napas berikutnya. Saya tunggu selam 10 menit ,saya raba denyut nadinya …tidak terasa ada denyutnya lagi, Inna lillahi wa inna ilahi rojiuun…ia telah kembali kehadirat Allah dengan tenang. Tanpa keluhan atau teriakan kesakitan.

Tidak terasa air mata mengalir, teringat kenangan selama 28 tahun bersama menjalani suka dan duka kehidupan ini. Ia telah kembali menemui sang pencipta yang agung pada hari sabtu jam 5.30 pagi  tanggal 3 Juni tahun 2006 dalam usia 50 tahun. Demikianlah kalimat asmaulhusna yang diucapkan terus menerus mengantarkan kepergian istri saya menghadap Allah dengan tenang

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *