Archive for the ‘KISAH HIKMAH’ Category
SRIKANDI PADANG PASIR
Padang pasir tandus yang menghubungkan kota Makkah dan Madinah sungguh banyak menyimpan kisah hikmah yang dapat menjadi pelajaran bagi kita semua. Padang pasir tandus ini menjadi saksi perjalanan Hijrah Rasulullah dari Makkah ke Madinah, padang pasir tandus itu juga menjadi saksi beberapa kali peperangan antara kaum Muslimin dengan kaum kafir Quraisy di Badar, bukit Uhud dan lain lainnya. Padang pasir yang kering dan tandus itu juga menjadi saksi perjalanan Rasulullah dari Madinah ke Makkah, untuk menaklukan kota Mekkah dan membersihkan Ka’bah dari berbagai berhala yang disembah kaum Kafir Quraisy.

Dipadang pasir yang kering dan tandus antara Makkah dan Madinah itu pulalah berdiamlah sepasang suami istri Abu Amir dan Ummu Habib disebuah kemah yang sudah tua dan lusuh. Sepasang suami istri itu hidup dalam sebuah kehidupan yang lebih banyak susah daripada senangnya, lebih banyak keras daripada lembutnya. Mereka menggembalakan beberapa ekor kambing milik mereka sendiri pada sebuah padang rumput yang terletak didekat kemah tersebut. Mereka mengeluarkan kambing kambing mereka tatkala matahari sudah agak tinggi dan membawa kembali kambing mereka kekandangnya ketika malam mulai menjelang.
Mereka sudah merasa puas dengan rezeki yang mereka dapat dari hasil menggembalakan kambing tersebut. Mereka tidak punya penghasilan lain selain apa yang mereka dapat dari kambing tersebut. Mereka menjual kambing yang lahir, memerah susu dan menjual kain bulu dari kambing yang disembelih kepada kafilah yang lalu lalang antara Makkah dan Madinah. Apabila bumi disekitar mereka kering dan tidak berumput, mereka terpaksa pindah ketempat lain yang mempunyai rumput untuk menggembalakan ternaknya. Demikianlah keadaan mereka seterusnya, namun mereka selalu berusaha untuk tetap tinggal pada jalur yang biasa dilalui para kafilah agar mereka tetap selalu berhubungan dengan kafilah tersebut. Read the rest of this entry »
ALLAH MEMELIHARA HARTA ORANG MUKMIN
Syaikh Muhammad Taqi yang tinggal di
Tiba2 dari kejauhan ia melihat ada sekeping emas yang tergeletak disela sela orang yang lalu lalang ditengah pasar. Tidak ada satu orangpun yang melihat kepingan emas tersebut.
Syaikh Muhammad bangun dan berjalan menuju kepingan emas tersebut. Sampai ditempat kepingan emas tersebut ternyata bukan emas tapi hanya ingus yang telah kering. Ia merasa kecewa dan kembali ketempat duduknya semula, tanpa ada yang tahu apa yang telah dilakukannya tadi.
Ia duduk kembali memandang ketempat ia melihat kepingan tadi. Ia terkesiap dilihatnya emas tersebut masih pada tempatnya. Ia mencoba memusatkan perhatiannya, ia yakin bahwa itu betul kepingan emas. Ia berdiri lagi dan berjalan kearah kepingan emas tersebut. Ketika ia menjulurkan tangannya untuk mengambil benda itu, ia terkejut ternyata benda itu hanya ingus yang telah kering. Ia segera menarik tangannya kembali. Dan dengan rasa menyesal kembali ketempat duduknya semula. Ia pandangilah tempat ingus tersebut, ia melihat itu adalah kepingan emas yang berkilau. Kali ini ia tidak mau bangkit lagi dari tempat duduknya. Ia hanya memandang kepingan emas itu dengan perasaan penasaran. Ia bingung dengan kejadian itu.
Tak lama kemudian ia melihat seorang ulama yang sudah tua yang berjalan dengan badan gemetar sambil membungkuk dan mencari cari sesuatu. Ia berjalan menuju kepingan emas tersebut, dan terlihat dengan wajah berseri memungut benda tersebut, dan memasukannya kedalam sakunya dan pergi kembali. Syaikh Muhammad segera bangkit menyusul ulama itu, setelah mengucapkan salam ia bertanya tentang kepingan emas yang baru diambilnya itu.
Orang tua itu menjawab: ” Aku dikaruniai Allah seorang anak yang baru lahir. Aku tidak memiliki uang untuk sewa rumah. Aku pergi kepada seseorang untuk meminjam uang, ia meminjami aku kepingan emas itu. Lalu aku pergi kepasar untuk membeli kebutuhan sehari hari. Ketika aku hendak menjual kepingan emas yang dipinjamkan seseorang tadi ternyata kepingan emas itu sudah tidak ada. Aku yakin emas itu terjatuh dijalan. Aku kembali menelusuri jalan yang pernah ku lalui sampai akhirnya aku menemukan kembali kepingan emas yang hilang itu” Syaikh Muhammad tercengang mendengar penuturan orang tua itu. Demikianlah jika Allah menjaga harta orang mukmin tidak ada yang bisa mengambil harta itu darinya. Read the rest of this entry »
DAPAT TEMPAT DUDUK DI KERETA BERKAT TASBIH
Lebaran tahun 1980 ketika saya masih tugas belajar di Lembaga Polyteknik PU-ITB Bandung saya berlibur ke Jakarta beserta istri dan anak saya yang baru berumur 1 tahun. Perjalanan dari Bandung tidak ada masalah, saya berangkat sehari sebelum lebaran. Tempat duduk banyak yang kosong. Masalah timbul ketika saya mau kembali ke Bandung seminggu setelah Lebaran. Saya beli ticket kereta api dari Jakarta ke Bandung tanpa tempat duduk alias berdiri. Pada ticket yang saya beli tertulis kalimat ”Berdiri”. Saya cukup bingung, saya membayangkan alangkah capeknya dari Jakarta ke Bandung selama 4 jam berdiri sambil menggendong anak saya yang ketika itu baru berumur satu tahun.
Ketika berangkat dari rumah abang saya dibilangan Tanah Abang menuju Stasiun Gambir saya terus membaca kalimat tasbih “Subhanallah” didalam hati, sambil berharap mudah2an dikereta saya dapat tempat duduk. Distasiun Gambir saya berdiri dijalur 1, menunggu kereta yang akan ke Bandung muncul dari arah Kota. Ketika kereta muncul dari arah Kota saya terus bertasbih sambil berdo’a mudah2an Allah menyediakan tempat duduk bagi kami sekeluarga. Ketika kereta sudah masuk kejalur 1, saya tetap berdiri ditepi rel dan berdo’a mudah2an gerbong yang berisi tempat duduk kosong bagi kami berhenti pas didepan kami.
Sementara calon penumpang yang lain berlarian mengejar gerbong yang mulai melambat itu saya tetap berdiri ditempat saya. Alhamdulillah ketika gerbong kereta mulai berhenti ternyata pintu salah satu gerbong pas berada dimuka kami, sambil menggendong anak saya menarik tangan istri saya masuk gerbong tersebut. Saya lihat ada beberapa bangku yang masih kosong, saya langsung mengajak istri saya duduk disalah satu bangku yang masih kosong tersebut. Saya terus bertasbih dan berdo’a dalam hati mohon agar bangku itu disediakan bagi kami dan tidak ada orang yang megklaimnya.
Kereta mulai bergerak menuju stasiun Jatinegara, saya terus bertasbih dan berharap tidak ada orang yang mengklaim bangku yang kami tempati. Sampai di Jatinegara kereta berhenti sebentar menaikan penumpang, gerbong mulai dipadati penumpang yang berdiri, jantung saya terus berdebar, saya kuatir kalau ada orang yang mengklaim bangku yang kami tempati ini. Kalau ada orang yang mengklaim jelas kami harus mengalah karena pada ticket kami tertulis kalimat ”Berdiri” dan tidak ada nomor tempat duduknya. Read the rest of this entry »
BALASAN KEBAIKAN ADALAH KEBAIKAN PULA
Kisah ini terjadi setahun yang lalu ,ketika itu saya baru saja pulang kantor. Saya pulang sudah larut sore. Selesai sholat magrib dan isa saya duduk membaca koran diruang tamu. Tiba tiba saya mendengar suara motor berhenti didepan rumah dan terdengar ucapan seseorang memberi salam.
“ Wah ada tamu rupanya “. Saya segera menjawab salam tersebut dan membuka pintu.
“ Wah pak Suripto kiranya, silahkan masuk pak “. Jawab saya.
Wajah pak Ripto tampak agak suram, mungkin dia letih baru pulang kerja seperti saya juga. Setelah bicara kesana sini berbasa basi kutanyakan maksud kedatangan beliau. Pak Ripto menjelaskan bahwa tadi pagi ia baru mendapat SMS dari putranya yang kuliah di Semarang bahwa putranya butuh uang Rp 200.000 untuk menyelesaikan skripsinya. Uang tersebut minta dikirimkan segera besok karena ia sangat membutuhkannya.
Kebetulan saat ini ia juga sedang kesulitan uang, tadi siang ia sudah berusaha meminjam temannya dikantor. Tapi keadaannya ya sama juga. Mereka tidak ada yang bisa membantu. Selesai sholat magrib ia berfikir keras mau pinjam kemana ya?. “ Selesai sholat isa tadi tiba tiba terlintas wajah bapak dalam fikiran saya, karena itu saya kemari mungkin bapak bisa membantu memberi pinjaman kepada saya untuk mengatasai kebutuhan putra saya ini “ katanya menjelaskan.
Saya termenung dan merasa prihatin dengan kesulitan teman saya ini. Saya pikir kalau saya kasih pinjam tentu masalah pak Ripto tidak sampai disitu saja, tentu dia masih akan dibebani fikiran bagaimana mengembalikan uang itu kelak, saya ingin membantu teman ini secara tuntas.” Pak Ripto saya ingin betul betul membantu pak Ripto, kalu uang sebesar itu saya pinjamkan kepada pak Ripto tentu pak Ripto masih terbebani fikiran bagaimana mengembalikannya kelak, karena itu saya ingin membantu pak Ripto dengan memberikan uang sebesar itu dan pak Ripto tidak perlu memikirkan untuk mengembalikannya lagi kelak” kataku. Pak Ripto tampak terkejut dan air matanya berlinang sambil mengucapkan terima kasih kepada saya.
Selanjutnya pak Ripto melanjutkan “ Pak saya mengucapkan terima kasih kepada bapak, saya sungguh takjub inilah kekuasaan Allah yang Maha besar. Saya teringat kejadian seminggu yang lalu mungkin ini balasan dari apa yang saya lakukan minggu lalu” Read the rest of this entry »


