AZAB ANAK DURHAKA MENGHADAPI SAKRATULMAUT

You may also like...

2 Responses

  1. Putri says:

    Assalamualaikum Ustadz, saya anak bungsu dari 3 bersaudara (perempuan semua). Kakak saya yg pertama (A), kedua (B), dan saya. A 34thn, B 26thn, C 17thn.
    A,C belum menikah, B sudah menikah. Setahun setelah pernikahan, B dikaruniai seorang anak namun B tidak bisa merawat anaknya, B memilih menjadi wanita karir karena pekerjaan suaminya dirasa tidak cukup menanggung biaya kehidupan keluarganya. B dan suami seorang guru honorer.
    B diberi rumah sendiri oleh ayah, hanya berbeda RT. Walaupun ayah melarang dan marah, namun ibu tetap mau merawat (dititipi) bayi itu selama B dan suami bekerja dr pagi sampai 3sore. Saat itu ayah sedang sakit dan akhirnya meninggal saat usia bayi 8bln, dan dgn keadaan ayah dan B tidak akur karena masih berbeda pendapat tentang menitipkan bayi itu.
    Saya yg saat itu 17thn masih blm mengerti betul keadaan ini, saat itu saya masih membantu ibu merawat anak B karena tidak tega melihat ibu saat terlalu letih menjaga.
    Saat usia 20thn, lahir anak ke-2 B dan saya mengarahkan kakak B agar menyewa perawat saja, namun tak juga digubris. Kakak A diam menurut saya karena kakak tidak mengerti dan tahu bagaimana ibu harus merawat sepenuhnya anak pertama B mulai dari memandikan, memasak, memberikan makan, mengajari pelajaran, mengantar ke sekolah, dll. Saya hanya bisa membantu ibu sesuai yang saya bisa karena saya jg harus berkonsentrasi pada studi saya.
    Saat ini 21thn saya sudah mulai penat dengan keadaan ini, karena saya harus fokus terhadap studi saya namun tak dpt dipungkiri saya memikirkan ibu yang merawat kedua anak B yang berusia 4thn dan 8bln.
    Pernah sewaktu sakit, saya tidak membantu apapun, hanya melihat bagaimana ibu merawat tanpa ada yang membantu, dengan usia sekitar 50thn apakah ibu mampu merawat kedua anak B.
    Ternyata ibu kewalahan, tidak bisa melakukan pekerjaan (memasak, menonton tv, ataupun lainnya yg dpt menghibur ibu) lain selain menemani kedua anak B dan sempat tidak tahan/tidak bisa merawat hingga terkadang jatuh sakit. Namun B membelikan obat untuk ibu pun tidak.
    Saya sempat bicara kepada ibu kalau tidak tahan bilang ke B, karena saya bilang tidak digubris. Saya kadang juga marah kepada kakak B dengan keadaan ini, namun ibu lebih membela B dan memarahi saya karena B turut menghidupi kehidupan kami saat ini semenjak ayah meninggal walaupun hanya sedikit. Tapi menurut saya biaya yg diberikan B sudah seharusnya sebagai anak ibu dan ibu jg sudah merawat anak2 B.
    Kemarin saya secara tdk sengaja mengucapkan saya lebih memilih ibu sakit dan saya menjaga ibu sehingga kalau ibu sakit, ibu tdk perlu merawat kedua anak B.Daripada saya melihat ibu keletihan dan kadang marah sendiri dengan keadaan ini dan hanya bisa melampiaskan kemarahannya kepada saya tanpa bisa mengatakannya kepada B.
    Namun ibu tetap membela kakak B. Dengan keadaan itu, hari ini saya hanya fokus kepada studi saya tanpa menghiraukan yang dilakukan ibu.
    Setiap sholat saya menangis memikirkan hal ini, apakah saya salah? apakah saya harus membantu ibu karena jujur saya tidak tega. dan tindakan apa yang seharusnya/baiknya saya perbuat?
    Dan apakah kakak atau saya termasuk anak yg durhaka? Mohon penjelasannya pak, terima kasih.

    • Fadhil ZA says:

      Wa alaikum salam

      Tugas seorang istri yang utama adalah dirumah mengurus anak dan suaminya. Namun dewasa ini semakin banyak suami istri yang bekerja dan menitip anaknya pada orang tuanya. Boleh boleh saja kalau mau bekerja , namun harus difikirkan jangan sampai membebani dan memberatkan orang tua. Kemampuan seorang nenek mengurus cucunya tidak sama dengan seorang ibu mengurus anaknya. Nenak itu sudah lemah fisiknya. kalau mau minta bantuan sinenek sebaiknya sediakan pembantu untuk membantu beliau.

      Ibu kamu itu berada pada posisi yang sulit, disatu fihak fisiknya sudah lelah, namun disisi lain dia tidak sampai hati membiarkan cucunya terlantar tidak ada yang mengurusnya. Dia berada pada posisi yang sulit , anak yang seharusnya memberi rasa aman pada diri nya ternyata malah membebaninya, namun dia tidak berani mengemukakan hal ini. Dia hanya memendam isi hatinya. kalau kamu larang untuk mengurus cucunya itupun dia tidak sampai hati. Tentu saja dia tidak setuju dengan kamu.

      Seharusnya kakak kamu menyediakan pembantu untuk meringankan beban ibu kamu. Sayang kakak kamu nampaknya tidak peduli, atau mungkin saja dia belum mampu menyediakan pembantu, sebaiknya kalian musyawarahkan masalah ini. Ibu kamu itu keadaannya seperti makan buah simalakama, maju kena mundur kena , serba salah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>