SULIT DAPAT JODOH AKIBAT GANGGUAN SIHIR
Diposkan oleh admin
Allah telah menjadikan segala sesuatu berpasang pasangan, setiap orang tentu mendambakan mendapat istri atau suami yang membawa keberkahan dan ketentraman hidup didunia maupun akhirat. Ada yang mendapatkan jodohnya dengan mudah tanpa banyak rintangan, namun banyak pula orang yang sulit mendapatkan jodoh. Banyak wanita atau pria sampai usia diatas 40 tahun belum juga menemui jodohnya.
Sulit mendapat jodoh ini ada yang disebabkan karena kesibukan yang bersangkutan dalam urusan dunia , sehingga tidak terfikirkan untuk mencari pasangan hidup. Namun tidak sedikit yang sudah berusaha untuk mendapatkan pasangan hidup, namun selalu menemui kegagalan oleh sebab sebab yang tidak jelas. Bagi mereka yang selalu gagal dalam mendapatkan pasangan hidupnya perlu dicurigai kemungkinan adanya gangguan dari kekuatan sihir yang merintanginya.
Jika ada diantara pembaca yang curiga dengan gangguan sihir yang menghalangi perjodohannya , yang ditandai dengan kegagalan berulang ulang dalam masalah perjodohan dengan sebab yang tidak jelas , hati hatilah dalam mengatasinya. Jangan sampai berurusan dengan dukun, paranormal dan lain sebaginya . Kehadiran dukun dan paranormal bukanlah satu solusi bahkan akan menambah rumit keadaan. Umumnya para dukun dan paranormal menggunakan jasa khodam jin untuk mengatasi masalah pasiennya. Aktifitas menmggunakan jasa jin ditandai dengan meminta syarat tertentu seperti ayam cemani, mandi kembang atau mandi dari 7 sumur atau sungai dan lain sebagainya.
Keberadaan jin khodam ini tidak akan menyelesaikan masalah, apalagi jika sudah mendatangi banyak dukun , maka semakin ramailah jin yang mengelilingi atau memasuki tubuh yang bersangkutan. Masalahnya tidak akan selesai bahkan bertambah rumit karena jin yang merasuki tubuh yang bersangkutan akan berebut kekuasaan untuk menguasai tubuh yang bersangkutan.
Berikut ini kami sampaikan kisah mereka yang terhalang jodohnya oleh kekuatan sihir.
(1) TUJUH KALI GAGAL DILAMAR KARENA SIHIR
Oleh :Ghoib Ruqyah Syar’iyyah
Janda kembang. Sudah tujuh tahun ibu Santi mendapat julukan itu. Dan, selama kurun waktu itu pula, tujuh orang telah gagal mengantarkannya ke pelaminan untuk dua kalinya. Hati siapa yang tidak terluka, hati siapa yang tidak menjerit ketika jodoh yang sudah hadir di depan mata itu akhirnya hilang kembali. Tinggallah ia dalam kesendirian, dalam penantian panjang merindukan datangnya jodoh. Hingga akhirnya ibu Santi dipertemukan dengan seorang lelaki yang kini menjadi suami dan calon ayah dari janin yang berusia dua bulan, dengan izin Allah, setelah mengikuti terapi ruqyah di kantor Majalah Ghoib. Berikut ini adalah petikan kisahnya.
Sebagai gadis Betawi, yang besar di Jakarta Selatan, saya termasuk gadis yang aktif di organisasi. Saya termasuk tipe orang yang suka bergaul dan selalu ingin mencari teman baru. Namun, dalam masalah jodoh, mungkin banyak orang bilang saya termasuk konservatif, karena saya mengikuti gaya yang jauh berbeda dengan anak muda jaman sekarang. Dan, saya tidak menyesalinya.
Pada tahun 1993, setelah menyelsaikan kuliah di sebuah perguruan tinggi Islam, di Jakarta Selatan saya menikah dengan seorang lelaki yang belum saya kenal sebelumnya. Hubungan kami diawali dengan perkenalan antar orang tua. Waktu itu, sepertinya saya tidak yakin kalau pertemuan saya ini akan berlanjut ke jenjang perkawinan. Karena sama sekali saya tidak kenal dengan calon suami saya. Tapi karena hubungan antar keluarga yang cukup baik, akhirnya saya menerima khitbahnya (lamaran nya).
Setelah menikah, tugas sebagai seorang istri telah menanti dan semuanya saya jalani dengan bahagia. Tak lama kemudian, saya mengikuti suami yang sedang menyelesaikan kuliah di luar negeri. Pada saat itu, kehidupan keluarga boleh dibilang harmonis dan tidak ada kendala berat yang mengganggu mahligai rumah tangga kami. Semuanya berjalan normal dan saya menikmati indahnya pengantin baru. Hingga akhirnya saya melahirkan seorang bayi laki-laki yang lucu. Terasa lengkap sudah kebahagiaan kami.
Namun, satu hal yang tidak terbayang sebelumnya, beberapa hari kemudian saya menderita sakit kulit, yang agak aneh, kulit saya terkelupas. Menurut analisa dokter yang sempat saya temui, sakit itu akibat keracunan obat. Kondisi kesehatan saya yang tidak kunjung membaik, bahkan semakin parah itu memaksa kami sekeluarga pulang ke tanah air. Tepat setelah anak saya berumur tiga bulan. Dengan konsekuensi tugas belajar suami akhirnya terbengkalai.
Di Jakarta, selain berobat ke dokter, saya juga mencoba cara lain dengan mengikuti pengobatan alternatif di Ciputat, Banten. Waktu itu, sang tabib mengatakan bahwa selain dari pengaruh keracunan obat, saya juga mengalami gangguan, yang tidak dijelaskannya secara terperinci. Saya diobati dengan cara harus membuka baju dengan ditemani muhrim saya. lalu dengan menggunakan sisir yang dicelupkan ke minyak kelapa, sang tabib mengusapkan minyak itu ke badan dan muka saya. Memang saya merasa agak risih, tapi karena saya ditemani oleh muhrim saya dan dorongan kuat untuk segera sembuh, maka saya paksakan diri untuk bertahan juga.
Setelah berobat kira-kira tiga bulan, akhirnya saya sembuh. Namun, saya tidak tahu persis apakah kesembuhan itu karena pengaruh obat dari dokter ataukah dari tabib. Sebab seperti yang saya katakan tadi, selain berobat secara medis saya juga berobat ke pengobatan alternative. Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa. Canda ria selalu mengisi keseharian kami.
Hingga tibalah saat yaang mengguncangkan perkawinan saya. Setelah dua tahun menikah, suami yang saya cintai itu dengan tega pergi tanpa meninggalkan jejak yang berarti. Saat itu, hanya bilang mau bermain ke rumah seorang temannya. Tapi yang terjadi justru dia tidak pulang selama satu tahun.
Saya sedih, anak dua tahun yangsedang lucunya, anak yang sangat membutuhan kasih sayang dari kedua orangtuanya itu harus kehilangan satu sayapnya. Pada sisi lain, saya juga beruntung memiliki orangtua dan saudaara yang sangat memperhatikan saya dan anak saya, sehingga perkembangan keijwaannya tidak terganggu. Sebagai istri yang berbakti kepada suami dan rasa tanggung jawab sebagai ibu mengharuskan saya untuk tidak berpangku tangan. Saya selalu berusaha mencari suami saya berbulan-bulan, namun tak pernah tahu ke mana dan di mana saat itu dia berada.
Akhirnya saya memohon petunjuk kepada Allah, alhamdulillah saya selalu bermimpi yang mungkin benar. Yang jelas, nama yang ditunjukkan dalam mimpi itu sama. Orang-orangnya sudah jelas dan alamat pun sudah jelas. Dalam mimpi itu saya melihat suami saya telah menikah dengan wanita lain. Akhirnya saya minta petunjuk kepada Allah, kalau dia kembali semoga dimudahkan jalannya tapi kalau memang tidak, ya tidak apa-apa. Mungkin ini adalah jalan yang terbaik.
Ternyata mimpi saya itu benar, bahkan istrinya itu pernah datang ke rumah saya dan meminta maaf. Namun, hati saya sudah terlaniur luka. Luka yang sangat dalam dan tak mungkin terobati hanya dengan kata manis. Saya sudah dikecewakan sekian lama, dan tidak dihiraukan. Maka, dengan berat hati, saya menggugat cerai di pengadilan agar status saya menjadi jelas, sebagai single parents bukan. Setelah menjalani proses selama enam bulan di pengadilan. Alhamdulillah akhirnya pengadilan memutuskan kami cerai.
Terus terang, hal ini bukanlah sesuatu yang mudah bagi saya, terlebih untuk anak saya. Saya terus berpikir apa yang harus dilakukan untuk menghidupi anak saya, sementara mantan suami tidak pernah mau memberikan nafkah kepada kepada anaknya. Ia berpikir bahwa nafkah itu juga akan saya nikmati. Lalu, saya mencoba berunding dengan orangtua dan minta izin untuk kerja. Namun, dengan tegas dan penuh keibuan orangtua melarang saya bekenja, “Kalau kamu kerja, anak kamu siapa yang mengunusi?” Pertanyaan ibu yang sulit saya jawab. Saya tidak ingin anak saya kehilangan perhatian setelah ia kehilangan kasih sayang ayahnya.
Akhirnya, selama tiga tahun kehidupan saya ditanggung kembali oleh keluarga. Dan, setelah anak saya berumur lima tahun serta dipelihara oleh saudara saya. Barulah tiba kesernpatan untuk mengajar privat mengaji. Meski, terkadang malam hari.
Sebagai seorang single parents, yang masih muda sehingga menyandang status janda kembang saya selalu menjadi gunjingan. Akhirnya saya melepas privat mengaji di apartemen Kuningan. Karena sejak jam tujuh malam saya sudah dijemput dan baru pulang pada iam I I. Akhiriya saya mengajar pada siang hari saja.
Terus terang, setelah perceraian itu mantan suami saya sering menelpon. Dan, sesekali datang ke rumah, untuk sekadar bertemu dengan orangtua saya atau bahkan mengajak rujuk kembali. Suatu saat, mantan istri pertamannya yang berasal dari Jawa Barat datang meminta maaf, karena telah mengurung suami saya selama empat puluh hari di rumahnya. Dengan harapan dia bisa melupakan saya dan anak saya. Bahkan makan minumnya telah disediakan. Dari sini saya tahu bahwa mantan suami terkena pellet. Tapi dengan istrinya yang sekarang, setelah tiga kali cerai, saya berternan baik. bahkan dia memandang saya sebagai kakaknya, sampai dia sempat bilang, “Kalau kakak mau nikah lagi dengan mas (suaminya), tidak apa-apa. Saya siap menjadi istri kedua.”
Ajakan rujuk itu tidak pernah saya hiraukan, hingga suatu ketika ia sempat mengancam, “Kamu tidak akan bisa menikah lagi selain sama saya.” Meski demikian, saya tetap menolak untuk rujuk.
Satu persatu para pelamar itu membatalkan lamarannya.
Setelah cerai setahun, ada beberapa orang yang berniat untuk melamar. Tapi saya heran, setiap kali orang yang mau melamar itu menelpon, kulit saya selalu gatal-gatal, tangan saya pada merah-merah dan bentol-bentol. Akhirnya saya berobat ke dokter. Ketika berobat ke dokter yang berasal dari Aceh, dia bilang, “lbu tidak usah dikasih obat, karena saya curiga ibu dapat gangguan dari orang lain, mungkin begini saja, lebih baik ibu banyak membaca ayat kursi saja.” Adik saya sempat kaget, “Kok, dokter itu bisa bilang begitu” akhirnya saya pulang dan tidak dikenakan biaya pengobatan. Besoknya setiap kali ada telpon, perut saya jadi mules.
Sejujurnya saya katakan, selama perjalanan tujuh tahun menjanda itu, ada tujuh orang yang melamar saya. Dan, kepada setiap pelamar saya sampaikan bahwa kalau memang mau menikah dengan saya, dia harus datang ke rumah. Saya tidak mengenal yang namanya pacaran. Kalau memang berniat baik dia harus langsung ke rumah.
Saya masih ingat, ketika pertama kali ada yang mau melamar. Saya persilahkan dia untuk langsung datang ke rumah, saya tidak mengenal istilah pacaran atau apa. Hingga tibalah hari yang telah disepakati. Tapi setelah datang ke rumah, berbincang-bincang dengan keluarga dan melihat saya, rombongan keluarga pria berjanji untuk datang lagi keesokan harinya.
Dengan hati berdebar saya tunggu beritanya, dering telpon saja membuat hati saya berdesir, “Maaf dik, sepertinya kakak tidak jadi melamar kamu, sebab selama di rumah kamu kakak merasakan ada sesuatu yang aneh. Saya tidak tahu apa yang terjadi di rumahmu. Sepertinya ada sesuatu yang tidak memungkinkan saya untuk masuk ke kamu dan saya tidak bisa menjelaskannya.” Deg, jantungku berdegup semakin kencang. Saya penasaran apa yang terjadi. Saya telpon dia, saya minta penjelasan. Tapi dia tidak mau menjelaskannya.
Akhirnya saya berobat ke ‘orang pintar’. Katanya, orang yang berniat melamar saya itu melihat wajah saya sangat buruk dan menakutkan. Kemudian, saya diberi bungkusan yang di dalamnya tertuIis ayat-ayat Al-Qur’an. Saya baca tulisan arab itu, ini begini ini begitu, akhirnya saya pikir tulisan-tulisan itu mungkin untuk menjaga saya. Katanya, bungkusan itu harus dibawa kemana-mana selain ke kamar kecil.
Ketika membawa jimat itu, hati saya lebih tenang. Tapi ketika saya letakkan, atau tertinggal di rumah saya menjadi resah. saya semakin gelisah. Misalnya saat itu, saya sedang dalam perjalanan? saya gelisah dan selalu ingin pulang.
Pada suatu hari, bungkusan yang selalu saya letakkan di dompet itu hilang. Dompet itu dibawa oleh anak saya dan tidak tahu dibuang dimana. Lalu, saya datang lagi ke orang pintar itu. Dia marah sama saya, “Kenapa kok dihilangkan?”
“Saya tidak tahu. Saya mohon maaf. Saya minta lagi,” Saya merajuk. “Tidak bisa, karena jimat itu memang yang pokok,” jawab orang pintar itu.
Akhirnya, saya beralih pengobatan ke Bogor. Kebetulan pada malam Selasa dan Sabtu tidak ada praktek. Saya cari informasi kesana kemari, akhirnya ada yang mengatakan bahwa pada hari itu pak haji punya majelis taklim yang tidak bisa ditinggalkan. Dua bulan kemudian saya pindah lagi.
Di tempat ini, saya dimandikan dengan air kembang. Setelah itu, orang pintar itu mengakui kekalahannya, “Saya tidak mampu, jin yang dari Cirebon dan Banten itu membuat wajahmu menjadi buruk dan berbau bangkai di mata orang yangmau melamarmu.”
Demikianlah, beberapa orang pintar lainnya iuga ada yang mengaku terus terang bahwa ia tidak mampu mengobati saya. Namun, untuk mencari kesembuhan atas derita yang ini saya terus mencari tempat baru. Hingga pada suatu ketika saya pernah diberi amalan oleh seseorang agar saya selalu membaca surat Al-lnsyirah dan disuruh mandi pakai daun pandan wangi. Agar bau badan saya meniadi wangi dan tidak busuk. Saya juga pernah berobat ke suatu dan saya diberi ‘amalan’ yang lebih bagus bila amalan itu dibaca lebih dari sepuluh orang setiap hari.
Enam bulan setelah lamaran pertama dibatalkan ada lagi yang mau melamar. Katanya dia mau langsung datang ke rumah. Saya tunggu cukup lama tapi dia belum datang juga. Ternyata, saat itu dia mutar-mutar terus di sekitar gang kampung saya. Dan anehnya, tidak pernah menemukan jalan ke rumah saya. Setiba di masjid, Dia menelpon. “Saya kok rasanya keder terus mau ke rumah kamu. Saya tidak bisa masuk ke pekarangan kamu. Ya sudah, saya masjid saia”. Saya pikir ini tidak etis bila saya menemui dia. Tapi membiarkannya sendiri juga tidak mungkin, sudah berkali-kali dia mencoba tapi tidak pernah menemukan rumah saya. Akhirnya saya menyerah dan menemuinya di masjid lalu saya ajak ke rumah untuk dipertemukan dengan keluarga. Tapi akhirnya proses ini gagal juga. Saya tidak tau apa yang menyebabkan kegagalannya. Begitu seterusnya orang-orang yang melamar saya itu hingga berjumlah tujuh orang tapi semuanya gagal di tengah jalan.
Ketika setiap kali lamaran itu di batalkan hati saya terasa sakit. Mengapa selalu begini. Saya bertanya-tanya ada apa sebenarnya dengan diri saya. Lalu orang-orang menganjurkan saya untuk berobat ke seorang tabib di Surabaya. Tabib itu meminta mahar senilai satu juta. “Kalau mau setengahnya lima ratus ribu tidak apa-apa. Tapi kalau mau paten bayarnya satu juta,” katanya. sebelum mengikuti pengobatan itu, saya berdiskusi dengan kakak. “Pengobatan yang dipatok harga seperti itu apalagi nilainya cukup besar, berarti ada sesuatu yang disembunyikan. Awalnya dia minta satu juta, besoknya dia akan minta-minta terus,” kata kakak. Akhirnya saya tidak jadi ke tempat itu.
Terus, saya mencari Pengobatan lainnya. Ada teman yangmengatakan bahwa di Jakarta Timur ada pengobatan Yang bagus. Akhirnya saya menuruti sarannya. Saya berobat di Jakarta Timur dan diberi gulungan kecil. Ketika saya buka ternyata isinya tulisan ayat-ayat Al-Qur’an. Waktu itu saya yakin-yakin saja. Katanya “Kalau orang melihat kamu, orang itu akan suka kamu.” Alhamdulillah saya merasakan susah ada sedikit perubahan. Orang laki-laki yang melihat saya sudah mulai tersenyum. Saya sangat berbagahia. Tapi lama kelamaan kok bertolah belakang pula di batin saya. Semua syarat itu harus dibawa kemana pun saya pergi. Hanya ditinggalkan ketika buang air kecil atau buang air besar saja.
Suatu saat ketika ke kamar kecil, saya lupa melepaskan bungkusan kecil itu. Dan, terbawa ke kamar kecil. Tapi anehnya tabib yang mengobati saya di Jakarta Timur itu tahu apa yang terjadi.
“Kamu sembarang melanggar,” katanya. Saya stress dibilang begitu. Teru saya disuruh mengulang proses dari awal lagi. Sejujurnya, saya katakan bahwa saya membawa gulungan kertas itu lebih dari setahun. Dan, selama kurun waktu itu tidak ada yang melamar.
Sejak awal, orangtua saya memahami bahwa kegagalan demi kegagalan yang saya alami, mungkin tidak lepas dari ketidaksenangan mantan suami saya, terlebih lagi beliau mendengar sendiri ancaman mantan suami saya dulu.
Bertemu dengan Majalah Ghoib.
Perkenalan dengan tim ruqyah majalah Ghoib diawali dengan kedatangan seorang teman yang pernah diruqyah. Dia bertanya, “Bu Santi boleh saya pinjam tape recorder?” “Oh bisa, itu ada di depan,” jawab saya sambil menyeduh minuman. Saya tidak tahu apa isi kaset itu, saya hanya menduga itu adalah kaset pengajian. Setelah memutar kaset, dia langsung mengajak ngobrol. Ketika ngobrol sambil mendengarkan kaset itu, tiba-tiba saya terkejut, saya bertanya-tanya, “Ini kaset apaan sih, kok begini?” “Tidak kok, itu hanya kaset pengajian biasa,” jawabnya.
Tapi saya merasakan sesuatu yang aneh, kenapa tiba-tiba kepala saya sekarang sakit, setelah mendengar kaset itu. Saya langsung jatuh. Teman saya itu malah menyuruh saya segera berwudlu. Saya turuti perintahnya dan kebetulan ada adik saya baru datang dari kantor.
“Ada apa ini?”
“Ah, nggak. Setelah dengar kaset ini bu Santi kepalanya jadi sakit.”
Teman saya itu, ternyata sengaja memutarnya dan tidak dimatikan. Akhirnya saya bilang, “Sudahlah, kasetnya ini dimatikan saja. Saya tidak mau mendengarnya.”
Setelah itu, ia bercerita bahwa kaset yang diputar itu adalah kaset ruqyah. Dengan memperdengarkan kaset itu, ia ingin mengetahui lebih jauh apakah memang kegagalan yang saya alami selama ini disebabkan oleh pengaruh sihir atau tidak. Ia menangkap gejala tidak beres dalam diri saya sehingga ia meminjam kaset itu. Setelah taman saya pulang, saya biarkan kaset itu tergeletak begitu saja. Saya tidak mau memutarnya. Sebab saya takut terjadi sesuatu.
Keesokan harinya, pada jam setengah tujuh ada seseorang yang saya kenal menelpon. Orang yang tak dikenal langsung menyuruh saya datang ke kantor Majalah Ghoib sekarang juga. Saya katakana, “Apa-apaan ini belum kenal kok sudah memaksa saya ke Kebon Manggis.” (kantor ruqyah yang lama red.) Kebetulan, waktu itu saya ada acara. Sehingga saya memutuskan untuk tidak pergi ke kantor Majalah Ghoib. Tak lama kemudian, telpon bordering lagi, “Kenalkan nama saya bu Ita.” Ketika mendengar suaranya, saya ingin mematikan telpon itu. Saya tidak tahu, mengapa demikian galau perasaan saya, tidak tenang dan bawaanya sewot saja ketika mendengar suara bu Ita.
Saya alasan lagi, “Bu Ita, sepertinya saya tidak bisa kesana, jalannya macet total.” Tapi bu Ita tetap bersikeras menyuruh saya ke Majalah Ghoib. Akhirnya, dengan terpaksa saya mengajak ibu saya untuk menemani.
Ketika sampai di Majalah Ghoib, saya bingung kok orang-orang pada mau berwudlu. Saya juga disuruh ikut oleh Bu Ita, padahal tadinya hanya disuruh melihat saja. Pertama kali saya menolak. Dengan halus Bu Ita terus membujuk saya, “Tidak apa-apa ikut saja dulu.” Akhirnya saya ikut tiduran seperti yang lain. Ketika saya mendengar kaset pengajian, saya langsung teringat kaset yang diputar di rumah kemarin. Dada saya terasa panas, dongkol. Saya ingin kabur. Saya merasa kepala saya sudah sakit lagi. Saya bangun dan kembali ke depan rumah.
Saya disuruh tidur kembali, kaki saya dipegang bu lta. Saat mendengar kaset itu, kaki saya langsung terasa nyeri, kepala sakit dan telinga terasa panas. Seakan-akan kaset itu diputar persis di belakang kepala saya. Saya sempat berpikir mereka sengaja menaruhnya di belakang saya. Namun ketika saya tengok, ternyata tape itu terletak jauh dari tempat saya.
Saya gelisah. Saya duduk, bangun dan duduk kembali. Akhirnya saya disuruh tiduran saja dan tidak boleh bangun. Saya merasa kaset itu diputar berjam-jam. Sesudah itu Ustadz A. Junaedi, Lc. Mengulangi bacaan dari awal. Saya tidak kuat tiduran terus, dan saya ingin duduk kembali.
Setelah shalat dzuhur, baru saya diterapi langsung. Saat itu, saya tidak merasa sakit ketika dipijat pakai alat. Tapi selama masa pengobatan itu saya tidak sadar apa yang terjadi. Ketika dibacakan ruqyah ustadz Junaidi, saya sempat pingsan. Lalu dipijat bagian dada hingga terjadi dialok dengan jin, yang katanya dikirim oleh mantan suami saya.
“Kamu siapa?”
“Aku Jin.”
“Mengapa kamu disini?”
“Aku disuruh oleh si fulan untuk menghancurkan hidup dia.”
“Kalau begitu kamu keluar?”
“Saya tidak bisa keluar, sebelum menghancurkan hidupnya.”
Ustadz Junaedi lalu melakukan pijatan-pijatan. Jin yang berada di dalam merasa kesakitan lalu mengamuk hingga saya dipegangi beberapa orang. Tapi akhirnya jin itu menyerah dan keluar. Saya merasakan kepala dan badan terasa ringan, hati menjadi tenang dan tidak emosional seperti sebelumnya.
Selesai pengobatan, saya melihat jidat, kaki, dan tangan biru-biru semua. Saya tanya kepada ibu. Katanya saya sempat menendang dan menoniok Ustadz Junaedi, sehingga saya digebuk pakai sapu.
Saya bilang, “Ah, bohong. Saya tidak punya tenaga sekuat itu.”
Pada jam satu siang, saya pulang dengan senang dan ceria hingga membuat orang yang melihat saya terheran-heran. “Darimana nih kok ceria banget, tidak seperti biasanya.” “Ah nggak, baru di ruqyah. Saya juga nggak tahu. Beban yang menghimpit di hati selama ini terasa hilang. Terasa plong,” jawab saya seadanya.
Tak lama setelah sampai di rumah, telpon berdering. Telpon dari seorang kiai besar di Jakarta, yang ingin bersilatu rrahmi ke rumah saya besok pagi. Saya langsung terperanjat, ada apa seorang kiai mau bersilaturrahmi. Sama siapa? Padahal saya belum kenal.
Saya langsung menghubungi anggota keluarga saya. Kakak saya terkejut. “Kok bisa begitu? Dari mana tadi? Tanyanya. “Tadi habis diruqyan.” “Oh, pengobatan itu mungkin jalan terakhir,” ujar kakak sambil tersenyum.
Proses Khitbah (Pinangan)
Saya merasa seperti dalam mimpi. Apakah mungkin ada orang mau melamar saya? Padahal sudah beberapa kali lamaran terjadi selalu gagal. Dan sudah cukup lama tidak ada yang melamar lagi.
Pada malam Senin, rombongan pak kiai kami terima di rumah kakak yang kebetulan terletak 50 meter dari rumah ibu. Sebab saya trauma kegagalan masa lalu. Dan saya masih khawatir terjadi sesuatu bila saya menerimanya di rumah saya.
Dalam pertemuan itu, saya disuruh pak kiai istikharah. Kalau memang cocok, tahapan berikutnya akan segera dilakukan. Yang mengkhitbah saya juga disuruh istikharah.
Keesokan harinya, calon suami saya mau datang bersama dengan kakaknya. Mereka memaksa untuk datang langsung ke rumah saya padahal saya masih trauma. Dia penasaran, mengapa kemarin pertemuan dilangsungkan di rumah kakak dan bukan di rumah orangtua saya sendiri. Dia beralasan ingin bertemu dengan ibu saya.
Saya katakan, “Tidak bisa kalau ke rumah saya. Saya masih deg-degan, saya khawatir. Di rumah kakak saja.” Tapi dia tetap memaksa dan tidak mau mengadakan pertemuan di rumah kakak. Saya tetap tidak mengizinkannya, tapi dengan tak teduka, ia langsung datang ke rumah. Ia bertemu dengan orang tua dan kakak-kakak saya. Saat itu dia mengatakan, “Insya Allah sebentar lagi saya mau melamar,” saya terkejut mendengarnya. Nada suaranya terdengar tenang dan tidak emosional. Saya langsung teringat peristiwa sejak tujuh tahun yang lalu, semuanya gagal dan member berita yang tidak enak didengar.
Alhamdulillah, satu bulan kemudian kami langsung menikah. Tak lupa sebelumnya saya mengundang istri mantan suami saya. Dia bilang, “Kalau kakak menikah, orang yang paling berbahagia itu saya.” Mungkin dia punya perasaan tidak enak sama saya, cuma disembunyikan. Akhirnya saya telpon, saya dengar memang mantan suami saya melarangnya datang ke pernikahan saya. Mantan suami saya tidak datang dan tidak ada kabar beritanya.
Setelah pernikahan itu, suami saya merasakan ada sesuatu yang menghalanginya untuk bisa melaksanakan tugas sebagai seorang suami. Akhirnya dua minggu setelah menikah, saya bersama suami datang ke Ustadz Junaedi di Majalah Ghoib.
Saya mendampingi suami saya yang sedang diruqyah. Dari dialog mereka berdua yang berbahasa Arab, saya hanya menangkap bahwa ustadz Junaidi tidak bisa memastikan apakah ada gangguan jin atau tidak terhadap suami saya. Kita disuruh membaca do’a ketika berhubungan, dan doa “Bismillahilladzi laa yadhurru maasmihi syaiun fil ardhi wa laa fis samaa.” Saya juga disarankan selalu minum habbatussauda.
Alhmadulillah, satu bulan setelah ruqyah kedua, saya dinyatakan hamil oleh dokter. Dan, yang jelas saya sangat berbahagia memperoleh pendamping seperti suami saya yang sekarang. Seorang suami yang penyabar dan berakhlak mulia. Terlebih lagi Allah berkehendak menganugerahi janin yang sekarang berumur dua bulan di kandungan saya. Saya berharap semuanya berjalan dengan baik, bayi kami bisa lahir dengan selamat, dan kelak tumbuh menjadi anak yang shalih atau shalihah.
Sumber http://www.ghoibruqyah.com
(2) DIRAMAL 50 TAHUN TIDAK DAPAT JODOH
Menembus gerbang pernikahan tidak semudah yang dibayangkan. Ada saja hambatan dan halangan yang harus dilewati. Seperti penuturan Hera, setidaknya tujuh pemuda yang dikenalkan orangtuanya, semuanya, mundur karena satu alasan. Jin turut campur dan tidak menginginkan perkenalan berlanjut kejenjang pernikahan. Ia menuturkan kisahnya kepada Ghoib. Berikut petikannya.
Sebagai remaja yang baru menginjak dewasa, saya mulai terlibat dengan kegiatan di luar sekolah. Kebetulan saya dikaruniai suara yang cukup bagus, sehingga dengan mudah bergabung di sebuah grup musik (qasidah). Saya resmi menjadi penyanyi dan ikut dalam kegiatan kelompok ke sana kemari. Meski saat itu saya baru kelas dua SMP.
Dari sinilah cinta bersemi. Wiling Trisno jalaran saka kulino (Cinta tumbuh dan bersemi karena seringnya pertemuan). Dan itulah yang terjadi. Hanafi, anggota senior dalam kelompok kami menarik perhatian saya. Dengan penampilannya yang simpatik serta sikapnya yang dewasa, ia menjadi idola gadis remaja. Terlebih Hanafi termasuk anggota yang serba bisa. Bisa menyanyi dan memainkan alat musik. Tidak sedikit gadis yang mengidolakannya. Sehingga ketika berita keakraban saya dengan Hanafi perlahan tersebar, ada di antara mereka yang merasa tersaingi. Sebut saja Vivi, gadis kuning langsat dan tinggi semampai itu sempat melabrak saya.
Pernyataan Vivi mulai menggoncang kepercayaan saya kepada Hanafi. Namun untuk membenarkan semua pengakuan Vivi begitu saja, juga bukan jalan terbaik. Saya klarifikasikan hal itu kepada Hanafi. “Kenapa kamu bohong sama saya? Siapa Vivi itu?” Saya mencecarnya dengan berbagai pertanyaan. “Saya tidak ada hubungan apa-apa dengan Vivi. Kalau perlu saya gamparin dia,” kata Hanafi dengan nada tinggi.
Dengan ditemani seorang temannya, kami bertiga melabrak Vivi di rumahnya. “Vivi, katakan yang sebenarnya, kalau saya tidak pernah ngapa-ngapain kamu! Katakan kalau apa yang kamu sampaikan itu bohong semuanya!” Vivi yang tidak menduga kami datangi bertiga, akhirnya tidak bisa berkutik. Dia mengakui semua kesalahannya dan meminta maaf.
Hubungan saya dengan Hanafi pun terus berlanjut tanpa diketahui orangtua. Saya masih berusaha sebisa mungkin merahasiakan hubungan ini dari mereka. Karena memang usia saya yang terbilang masih ingusan. Saya baru kelas dua SMP, sementara Hanafi sudah berumur 22 tahun.
Namun, sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya akan jatuh juga. Itulah yang terjadi. Ketika, sedang asik menonton acara peringatan tujuh belas agustus, bapak memergoki saya sedang berduaan dengan Hanafi. Bapak yang selama ini telah mendengar kabar tidak sedap tentang hubungan kami menjadi naik pitam. Kemarahannya sudah tidak lagi terkendalikan. Sehingga dalam kerumunan orang banyak, bapak menghampiri saya dan memukul saya. Sementara itu Hanafi juga tidak luput dari kemarahan bapak. “Lupakan saja Hera! Kamu bisa dapat yang lebih dari Hera. Dia masih SMP, saya tidak ingin sekolahnya terganggu,” kata bapak kepada Hanafi dengan disaksikan banyak orang.
Sosok Kuntilanak Menemani Saya Jalan-Jalan
Sejak itu, hubungan saya dengan Hanafi tidak lagi seperti dulu. Saya semakin jarang bertemu. Hari-hari indah masa remaja berubah dengan kegetiran. Terus terang, hati saya masih belum bisa melupakan Hanafi begitu saja. Sehingga secara perlahan hal itu mempengaruhi kejiwaan saya.
Saya berubah menjadi gadis yang murung dan suka menyendiri. Keceriaan yang biasa mengisi keseharian saya perlahan hilang. Kata ibu, saya sering seperti orang yang melamun dan tidak nyambung bila diajak bicara. Pada sisi lain, kesehatan fisik saya juga mulai terganggu. Kepala dan dada saya sering sakit. Terus menggerogoti fisik saya, sehingga bila sakitnya kambuh saya tidak lagi berjalan dengan tegak. Untuk mengambil barang dari luar kamar, saya harus merangkak, karena rasa nyeri di uluhati yang tidak tertahankan. Sudah sekian kali orangtua membawa saya berobat ke rumah sakit, tapi semua itu tidak banyak membantu. Sakit saya tidak kunjung sembuh. Bisa dipastikan setiap bulan saya selalu muntah tanpa sebab yang jelas.
Setahun setelah peristiwa agustus itu, Hanafi menikah dengan gadis pilihannya. Kenyataan yang tidak dapat saya terima begitu saja. Pertama kali saya mendengarnya dari seorang teman sekelas, saya langsung berteriak histeris. Saya katakan kepada seorang teman bahwa selama ini saya tidak bisa melupakan Hanafi. Saya selalu ingat terus. Cinta saya sudah dibawanya habis. Saya sendiri heran, mengapa saya sedemikian jauh dikuasai perasaan itu hingga sedemikian rupa. Toh masih banyak pemuda yang lebih baik dari dia. Tapi mata hati saya sudah terbutakan.
Dari sini, saya berubah menjadi seorang gadis yang suka bersolek. Mematut diri di depan cermin hingga berjam-jam. Memoles wajah dengan bedak yang tebal dan setelah itu tidur. Saya tidak lagi peduli, apakah riasan itu akan dilihat orang atau tidak. Bagi saya saat itu yang terbayang dalam pikiran adalah saya ingin bersolek begitu saja.
Saya seakan menemukan telaga saat menerima undangan untuk tampil menyanyi. Meski dalam kondisi yang masih labil, saya memaksakan diri untuk tampil. Dan tentu saja bersolek dengan make-up yang tebal dengan wama lipstik yang tidak seperti biasanya. Saya lebih suka memakai shadow warna biru dongker. Sebuah perpaduan warna antara bedak, lipstik dan shadow yang terasa menakutkan bagi sebagian orang. Tapi saya tidak peduli. Saya asyik saja bernyanyi dan berjoged dengan goyangan yang mencengangkan. Ibu yang selalu mengikuti saya ketika tampil menyanyi sampai sedih dan tidak mengira saya bisa berubah sedemikian rupa.
Saat tampil menyanyi, saya kelihatan ceria dan lincah. Tapi begitu sampai di rumah, keceriaan itu hilang. Saya kembali menjalani hari-hari dengan kemurungan dan kesendirian. Ajakan orangtua dan saudara untuk bergabung bersama mereka di lantai bawah tetap tidak saya hiraukan. Saya asyik saja dengan dunia saya. Dalam kondisi yang demikian itu, saya sering merasa didatangi oleh sosok makhluk berambut panjang dan bergaun putih. Setiap jam satu atau dua malam, sosok perempuan dengan wajah mengerikan itu mengajak saya untuk turun. “Hera, Hera …” panggil sosok itu sambil melambaikan tangan. Dia berusaha membangunkan saya. Saya terima lambaian tangannya dan tanpa sadar, saya menuruni tangga. Rasanya saya seperti diajak jalan-jalan. Ke lantai bawah, atau ke lapangan di depan rumah. Saya seperti sedang ngobrol berdua saja. Saat itu, saya mencium bau harum memancar dari sosok perempuan yang mengajak saya. Tapi lama kelamaan dari mulutnya tercium bau busuk. Bau busuk yang menyadarkan saya hingga saya menjerit, “Ibuuu … ibuuu ….”. Yang saya rasakan kemudian, seperti ada yang memeluk saya sebelum akhirnya saya tidak sadarkan diri. Peristiwa seperti ini sering terulang.
Dua tahun sudah semua itu terjadi, tapi perubahan tak kunjung muncul. Dalam keadaan demikian, tetangga menyarankan bapak mengundang orang pintar yang katanya ustadz, namanya Zuhron. Bapak menuruti saran itu dan Zuhron dipanggil ke rumah.
Dengan disaksikan kerabat saya, Zuhron membaca al-Fatihah dan komat-kamit. Tak lama kemudian, salah seorang temannya kerasukan jin. Katanya, jin dari dalam diri saya dimasukkan ke dalam diri temannya agar bisa diajak dialog. Wajah pemuda yang telah kerasukan jin itu menegang. Matanya melotot dan urat-uratnya mengejang.
“Nih, dia jahat,” katanya sambil menunjuk-nunjuk bapak. Bapak terkejut. la tidak menduga akan menjadi kambing hitam. “Sampai kapan pun anaknya harus kawin dengan cucu saya,” laki-laki yang kerasukan jin itu tetap saja melotot. Dia mengaku selama ini berdiam diri diri di tengkuk saya. “Saya ada di tengkuknya. Biar dia sakit terus. Terus saya suka ngaling-ngalingin mukanya, agar tidak ada yang suka sama dia.”
“Memang kenapa?” tanya Zuhron. “Cucu saya disakiti sama syetan ini,” katanya sambil tangannya menunjuk-nunjuk bapak. Ketakutan bapak semakin kuat, ketika laki-laki yang menjadi media jin mengamuk. Setelah kerasukan beberapa saat, laki-laki itu pun disadarkan kembali. Saya sendiri kemudian disuruh berobat ke tempat Zuhron secara rutin. Katanya, akar masalah sudah ditemukan, karena selama ini keluarga bapak tidak bermusuhan dengan siapapun. Satu-satunya masalah yang ada hanya dengan Hanafi, dan itu sudah berlangsung dua tahun yang lalu.
Tujuh Pemuda Mengundurkan Diri
Satu tahun lamanya, saya berobat ke Zuhron, namun tidak ada perubahan yang berarti. Saya tetap dalam kebengongan tak ubahnya orang ‘bloon’. Akhirnya bapak membawa saya ke orang pintar lainnya. Ki Prana dari Cirebon, Ki Darjo dan beberapa orang pintar lainnya. Semuanya mengatakan bahwa ada sesuatu yang menghalangi saya sehingga tidak ada pemuda yang suka dengan saya. Bahkan ada di antara mereka yang mengatakan bahwa sampai lima puluh tahun pun saya tidak akan bisa menikah.
Mendengar terawangan mereka yang mengarah pada satu titik itu, orangtua menjadi gelisah. Sementara saya adalah anak yang pertama. Bila kemudian saya terlambat menikah, maka adik-adik saya akan menanggung akibamya. Akhirnya ketika saya berusia 18 tahun, orang tua sudah mulai mengizinkan saya untuk dikenalkan dengan pemuda yang ingin menikah dengan saya.
Sejak itu ada beberapa pemuda yang mencoba dikenalkan. Paman saya memperkenalkan saya dengan temannya. Sebut saja namanya, Redi, tinggal di Jakarta Utara. Redi, sudah berjanji untuk main ke rumah. Alamat saya di Bekasi juga sudah dikantonginya. Namun, pada hari dan jam yang telah dijanjikan, Redi tidak kunjung tiba. Saya tunggu dan terus menunggu, tapi tetap tidak muncul. Selang beberapa jam kemudian terdengar dering telpon. Rupanya Redi yang berbicara dari balik telpon. Katanya, dia tersesat dan tidak menemukan jalan ke rumah saya. Padahal alamat saya mudah ditemukan karena terletak di pinggir jalan.
Redi menyerah. Ada lagi pemuda yang diperkenalkan. Kali ini namanya, Sapto, teman adiknya ibu yang masih kuliah di sebuah PT ternama. Sapto memang tidak tersesat dan dia sempat main beberapa kali ke rumah. Namun aneh, setiap kali bertemu dengan saya, katanya dia selalu sakit-sakitan. Katanya, kepalanya seperti ada yang memukulinya dengan keras. Sampai akhirnya melihat saya saja sudah ketakutan. Keringat dingin sebesar jagung membasahi keningnya. Dan Sapto pun kembali menyerah. Dia tidak lagi nongol ke rumah.
Meski sudah dua pemuda yang mengurungkan niatnya, tapi ibu tetap optimis. Dia berusaha untuk menutupi kekecewaannya, “Sabar Hera, hilang satu tumbuh seribu.” Saya tahu ibu mengkhawatirkan keadaan saya, semua ucapannya itu hanya untuk menguatkan jiwa saya agar tidak semakin terpuruk.
Sebenarnya, ketika menerima telpon saya sering tertawa cekikikan ‘hi hi hi hi’ tanpa saya sadari. Ibu yang selalu memperhatikan ketidakwajaran dalam diri saya itu pun mengingatkannya. Tapi tak lama kemudian saya cekikikan lagi. Mungkin hal ini jugalah yang membuat empat pemuda yang dikenalkan dengan saya di kemudian hari, akhirnya menyerah. Enam orang sudah gagal. Di tengah kebingungan itu, bapak membaca Majalah Ghoib yang menulis kesaksian seorang janda yang tujuh kali dilamar tujuh kali gagal. Setelah membaca majalah itu, ibu menyuruh bapak untuk segera mencari alamat Majalah Ghoib. Karena kisahnya sama dengan kisah saya. Bapak mencari ke alamat di jalan Kebon Manggis, tapi katanya sudah pindah. Sementara orang yang ditanya bapak tidak tahu kemana pindahnya. Tinggallah orangtua memendam rasa penasaran dimana kiranya Majalah Ghoib berkantor.
Sewaktu sakit pinggang dan pijat ke Pak Diman, bapak membawa serta foto saya dan minta diterawang. “Oh, ada yang nutup mukanya. Lima puluh tahun tidak bakalan kawin,’ kata Pak Diman. Akhirnya saya disuruh ke sana. Di bawah betis saya, katanya dikeluarkan benda-benda seperti beling. Saya juga dikasih jimat macam-macam, tapi tidak pernah saya pakai. Karena saya sudah tidak lagi percaya dengan jimat-jimat itu. Sudah banyak orang pintar yang mengobati saya, tapi semuanya tidak banyak membawa perubahan.
Setelah itu, orangtua saya berpindah meminta doa kepada seorang habib. “Anak ini memang kurang cesan. la harus segera dinikahkan. Karena dia gampang dikerjain orang,” kata habib.
Mendengar penuturan habib seperti itu, orangtua kembali semangat mengenalkan saya dengan pemuda lain, namanya Fikri. la anak seorang kyai. Janji pertemuan telah ditentukan, tapi ketika saya mulai mendekat ke Fikri, saya merasakan sakit kepala yang luar biasa. Sampai saya bentur-benturkan kepala ke tembok. Aneh, memang. Tidak biasanya saya bertingkah laku seperti itu.
Ibu kembali mendorong bapak untuk mencari alamat Majalah Ghoib. Beruntung ketika bapak shalat di Masjid Istiqlal, bapak menemukan Majalah Ghoib. Bapak segera mendaftarkan saya. Ketika giliran terapi, seperti ada saja yang menghalangi saya. Terlambat bangun atau kemalasan yang tiada terkira. Sehingga dua kali saya gagal terapi, karena terlambat datang. Pas, kesempatan yang ketiga, ibu memaksa saya untuk berangkat pagi.
Saat diterapi, sampai pada ayat-ayat sihir, saya berteriak. Saya berontak, hingga Ustadz Aris Fathoni kewalahan. Kelima ustadz yang lain segera menangani saya, meninggalkan pasien masing-masing. Heboh sekali, katanya ibu sampai menangis melihat reaksi saya yang tidak seperti pasien lainnya.
“Hi hi hi hi” saya tertawa seperti dulu. Tertawa ngikik yang tidak akan berhenti sebelum dipukul dengan sapu. Kata ibu, saat diterapi itu, saya berubah menjadi wanita yang genit, seperti gaya bintang film. Karena kondisi saya yang sudah lemas, akhirnya hari itu dihentikan. Jin yang cekikikan itu masih belum mau keluar.
Alhasil, dia kembali berulah saat saya bersama teman-teman berlibur ke puncak. Di tengah perjalanan ke air terjun, tiba-tiba saja saya kembali cekikikan saat melihat ke sebuah pohon besar. Terang saja, teman-teman pada ketakutan. Untunglah salah seorang teman saya segera mengingatkan saya untuk segera beristighfar.
Satu minggu berikutnya, saya ruqyah kedua, reaksi saya masih keras seperti ruqyah sebelumnya. Jin tidak mau mengaku siapa yang mengirimnya. Jin itu hanya menunjuk-nunjuk ustadz yang menterapi sambil mengatakan syetan. Dan selanjutnya, saya ngoceh macam-macam: tidak mau pakai jimat yang dari dukun, tidak mau mandi kembang bahkan ketika shalat, katanya saya juga tidak membaca doa. Saya juga menceritakan bahwa sudah sekian banyak pemuda yang mendekati saya pada mundur, sementara orang pintar mengatakan bahwa ada yang menghalangi saya untuk menikah.
“Masalah jodoh itu di tangan Allah. Bila Allah berkehendak, tidak lama Hera juga nikah. Tidak perlu menghiraukan ocehan orang pintar. Bikin kita stress saja” ujar Ustadz Aris. Ustadz-ustadz yang lain juga menimpali, “Besok juga kawin.” Kalimat yang memberikan ketenangan seperti itu, saya anggap sebagai bagian dari doa. Semoga Allah mengabulkan permohonan kami.
Setelah ruqyah kedua ini, saya tidak lagi bermimpi yang aneh-aneh. Sakit kepala yang sudah menahun itu pun sembuh. Semua keluarga di rumah terheran-heran dengan perubahan yang begitu cepat. Keceriaan kembali hadir dalam diri saya. Meski demikian, secara berkala saya mengikuti terapi ruqyah hingga enam kali. Dipandu dengan terapi mandiri di rumah melalui kaset, serta menjalankan shalat dengan baik.
Calon Suami pun Tak Luput Dari Gangguannya
Bersamaan dengan proses terapi ruqyah itu, di bulan Agustus ada seorang pemuda yang mengantarkan undangan pengajian ke rumah. Namanya Syahril. Pemuda yang satu ini berbeda dengan tujuh pemuda yang sempat dikenalkan kepada saya. Dia tidak merasakan ada kejanggalan dalam diri saya. Saya pun demikian, tidak merasa sakit seperti saat bertemu dengan Fikri.
Sejak pertemuan bulan Agustus itu, Syahril tidak lagi main ke rumah. Paling sesekali kami berpapasan di jalan. Namun di bulan Januari dia membuat kejutan melalui telpon. “Her, mau nggak saya kenalkan dengan orangtua?” katanya dari balik telpon. “Ah kenalan. Siapa takut,” jawab saya. Waktu itu ibu sedang berangkat haji. Nah, sepulang dari ibadah haji, gantian keluarga Syahril yang main ke rumah. Dari pertemuan yang singkat tersebut, mengalir keinginan untuk menjodohkan kami berdua.
Tak lama kemudian, orangtua Syahril menelpon kembali. Katanya, kalau mereka sudah melamar, maka seminggu atau dua minggu kemudian segera dilangsungkan pernikahan. Ketika hal itu disampaikan ibu, saya sempat terkejut, “Kawin, sebelumnya susah banget. Kok sekarang tiba-tiba mau nikah,” gumam saya. Saya pun meminta waktu tiga bulan.
Hari-hari saya berlalu biasa saja. Rasa sakit di kepala, punggung maupun uluhati sudah tidak lagi terasa. Saya jalani keseharian saya dengan penuh keceriaan. Terlebih harapan untuk segera menikah tinggal menunggu hari. Persiapan-persiapan kecil sudah mulai terasa.
Namun, hal berbeda menimpa Syahril. Sebenarnya setelah proses lamaran disepakati, Syahril mengalami kejadian yang tidak jauh berbeda dengan saya dulu. Sesekali muncul kebencian dalam dirinya. Orang sering menyebutnya dengan istilah ‘gedhek’. Namun, semua gangguan itu tidak menghentikan proses pernikahan yang sudah disepakati.
Suatu hari Syahril menyampaikan masalah kepada saya melalui telepon. “Katanya kalau mau jadi pengantin, pasti salah satu ada yang gedhek” kata Syahril dari balik telepon. “Kok Hera nggak, kamu kali yang gedhek” jawab saya. “Maklum deh. Itu sih kata yang sudah-sudah,” ujar Syahril. “Sudahlah, jangan diturutin. Itukan syetan. Lawan, apa yang mengganggu pikiran kamu biar kita tidak jadi …,” jawab saya.
Saya berusaha menenangkan perasaan Syahril, agar tidak banyak terpengaruh dengan gangguan yang dialaminya. Karena bagi saya semua gangguan itu bukan hal yang asing. Sudah sekian lama saya mengalaminya bahkan yang lebih berat dari itupun sudah saya alami.
Beberapa hari menjelang pernikahan, Syahril bahkan rada bingung. la seakan belum sadar bila akan menikah. Kebingungan itu terus berlanjut hingga saat resepsi pernikahan berlangsung. Pernikahan saya diselenggarakan pada hari Jum’at. Menurut cerita yang saya dengar kemudian, pada Jum’at pagi itu Syahril masih saja bingung dan tidak menyadari bahwa hari itu adalah hari pernikahannya. Waktu itu Syahril masih saja main ke pasar sehingga ditegur ibunya. “Syahril, kamu itu nanti nikah.” “Nikah?” katanya rada bingung.
Hal yang sama masih terjadi ketika Syahril harus mengenakan pakaian pengantin. Dia memang menurut saja, ketika didandani. Dari sorot matanya masih tersirat kebingungannya. Untunglah kesadarannya pulih kembali sesaat menjelang ijab qabul. “Kok sekarang sudah nikah, perasaan kemarin masih jadi pacar,” tanyanya rada bingung.
Alhamdulillah ijab qabul terlaksana dengan baik. Kami telah resmi menjadi sepasang suami istri. Dan yang membahagiakan saya, Abang Syahril kembali menemukan jati dirinya. la tidak lagi kebingungan seperti sebelumnya. Kami menyalami tamu dan undangan dengan riang. Ocehan ‘orang pintar’ yang mengatakan saya tidak akan menikah sampai lima puluh tahun ternyata tidaklah demikian. Allah telah mengabulkan permohonan dan usaha kami.
Sehari setelah resepsi, saya perhatikan Abang Syahril sepertinya kelelahan. Badannya panas dingin. Saya membiarkannya istirahat dengan tenang. Setelah maghrib, Abang muntah-muntah. Sedemikian parahnya, hingga ia sampai terjatuh. Akhirnya kami membawanya ke rumah sakit. Di rumah sakit, keadaannya semakin parah. Kalau lagi kepanasan tempat tidurnya sampai bergoyang-goyang.
Belajar dari pengalaman masa lalu, akhirnya saya mengusulkan untuk menjauh dari Bekasi. “Bang kalau memang begitu keadaannya, mendingan kita harus ngumpet dulu. Katanya kalau jauh, Kayaknya tidak kena.” “Kemana?” tanya Abang. “Abang kan punya kakak di Bogor.”
Sesekali, Abang memang masih bingung, satu hal yang mengantarkannya ruqyah ke Majalah Ghoib seperti yang saya lakukan dulu. Setelah terapi yang pertama, alhamdulillah gangguan yang dialaminya tidak separah dulu. Terlebih Abang tergolong orang yang rajin membaca al-Qur’an. Sehabis shalat Maghrib dan Isya’ selalu dimanfaatkannya untuk membaca al-Qur’an. Kebiasaan yang terus berlangsung hingga kini.
Sumber http://www.ghoibruqyah.com/index.php/Page-24.html
Popularity: 13% [?]



Ustadz mohon info dmana dapat melakukan ruqyag yg sesuai syariat tanpa ada unsur syirik.. trimakasih.. jazakallah…
Wa alaikum salam
Untuk wilayah jabodetabek silahkan hubungi klinik rukyah di jl Kelurahan lama no 5 Cililitan depan PGC telpon no 021-809 239 atau 021-7003 5459 atau klinik Rukyah di Jl Gunung sahari 1/42 gedung kojalia Senen jakarta Pusat telpon no 021-4288 7942 atau 021-7027 4645
Asss.. Ustad apa tdk ada cabang yang di bandung?
Assalamualaikum..Pa ustad klo tempat ruqyah center di bandung di daerah mana pa ustadz ..??
Mohon alamat lengkap dan no telepon nya..
Trima kasih..
Semoga Allah membalas..
Aminn
Wa alaikum salam
Coba hubungi Bandung Rukyah Center di alamat ini
ustadz saya seorang perempuan berumur 27 tahun,,saya belum menikah dan sangat ingin sekali menikah,,saya tdk tahu aral rintang apa yang menghalangi,,apa yg harus saya lakukan..??
syukron
ustadz saya seorang perempuan berumur 27 tahun,,saya belum menikah dan sangat ingin sekali menikah,,saya tdk tahu aral rintang apa yang menghalangi,,apa yg harus saya lakukan..??,,saya ada di daerah banyuwangi jawa timur
syukron
Wa alaikum salam
Mintalah pertolongan pada Allah dengan mengerjakan shalat malam atau dhuha sebanyak dua rakaat atau lebih setiap hari, selesai shalat bacalah tadabbur alfatihah untuk mendapatkan jodoh seperti yang saya sampaikan pada lampiran email ananda.
Lakukan semua itu dengan sabar dan istiqomah , mudah mudahan Allah mempertemukan ananda dengan jodoh yang serasi dan membawa berkah bagi kehidupan dunia dan akhirat.
assalamualaikum
Assalamu’alaikum.
Ustadz..sy perempuan 30th.
Blm menikah..sy ngerasa sll mendapat kesulitan utk menemukan jodoh.
Keadaan ini,mengingatkan sy ttg suatu hal.
Dulu sempet ada yg bil kl nantinya sy dlambatkan utk menikah.
Awalnya sy acuhkan..tp dg kondsi saat ini.sy ngerasa ingin terapi rukhiyah..
Mohon bantuan alamat.
Posisi sy djakarta
terima kasih
wassalam
Wa alaikum salam
Coba kamu lakukan test gangguan sihir dengan mendengarkan ayat rukyah seperti pada lampiran email ini. Jika kamu positip terkena gangguan sihir lakukan pembersihan dengan mandi dan minum air rukyah selama 7 hari berturut turut. Cara membuat air rukyah seuai petunjuk yang saya berikan pada artikel tersebut.
Selanjunya mintalah pertolongan pada allah untuk mendapatkan jodoh yang srasi dengan melakukan shalatg malam atau dhuha sebanyak dua rakaat atau lebih setiap hari. lakukan mana saja yang bisa ananda lakukan. Selesai shalat bacalah tadabbur alfatihah untuk mendapatkan jodoh seperti yang saya sampaikan pada lampiran email ini.
Assalamu’alaikum
pak ustadz, dlu sy sring perg ke paranormal untuk mnylesaikn mslh dngn bantuan jin. Sy prnh d beri air tambah untk mndi dn d mnum, ditiup dikepala. Nah skrng sy sdh brhnti dtng dn sy pun brtobat, tp sy msh merasa bhw jin yg tlh msuk msh diam dlm tbuh sy. Pak ustadz mohon solusinya?
Wa alaikum salam
Coba bersihkan pengaruh jin itu dengan mandi dan minum air rukyah selama 7 hari berturut turut . Cara membuat air rukyah seperti yang saya sampaikan pada lampiran email ananda. Perbanyak istighfar bertobat pada Allah. Kemudian dengarkan surat Al Hadit dan Al Jin yang saya sampaikan pada lampiran email ananda setiap hari untuk meneguhkan iman dan keyakinan ananda pada Allah.
Assalamualaikum Ustad,,,,, saya mohoh informasi ruqyah center di Jember. Trimakasih. Wassalam
Wa alaikum salam
Coba saja browsing di internet
asalamualaukum pak ustad….
sya punya kakak perempuan yang sikap nya aneh, kadang-kadang marah2 tidak jelas bahkan selalu membangkang dengan kedua orang tua saya.., pernah masuk rumah sakit jiwa tapi tidak ada perubahan…, sifatnya pengatur seakan dia paling pintar…, dan sering gak nyambung…
sudah di obatkan ke paranormal jga kemana2 tapi jga gak sembuh., jadi bagaimana lagi solusinya pak ustad…?